Book 1 : prasangka
Hujan pun membangunkan rumput-rumput yang sedang berbaring . “Jangan!” teriakan yang memecah hujan dan mengantarkan kebisingan. Aku langsung terbangun tegak diatas ranjang yang berselimut kain tipis bergambarkan sosok wanita. Aku terbelalak saat melihat pantulan cermin dari selimut yang berada di sudut kamar. Sosok itu tergambar sangat menyeramkan, bulu kudukku berdiri dan serasa tegang disekujur tubuh, mataku seakan melontar ingin lepas, “siapa ? siapa ? …”pertanyaan itu berulang-ulang terucap. “Jangan! Jangan! Jangan Lagi!”terdengar kembali kalimat itu, sekilas aku memalingkan wajah keatas dan kembali melihat kearah cermin, tidak ada apa-apa. Mungkin khayalanku mulai berputar kembali. Jam sudah mengarahkan pada pukul 10.00 WITA, aku baru sadar aku seharusnya sudah meninggalkan tempat ini dan mengatakan kepada Tony bahwa aku sudah akan kembali ke rumah pamanku di kota Malili. “Jaco! Kamu mau kemana?” tony berteriak saat aku menggotong tas ransel hitam, mungkin 20 kg, responku hanyalah diam terpaku dan menatap tanganku yang memegang besi anak tangga. “Ma-maaf, aku harus kembali ke kota untuk memberikan barang yang telah dititipkan nenekku kepada pamanku disana, terimakasih Karena telah mengizinkan aku menginap untuk 2 hari ini ny” dengan lugu dan sedikit gagapku menjawab. Dia hanya keheranan melihat tingkahku yang seperti orang linglung, mungkin dia penasaran mengapa aku harus pergi secepat itu, dan apakah dia membuat aku merasa sungkan tinggal disini. Dia pun mengantarkanku turun dan berbicara pada ayahnya tentang kepergianku. “duduk disini jaco” terlihat sebuat sofa dari kayu yang selalu terlihat bersih dan menggoda untuk diduduki selama aku disini. Ayahnya pun tiba, dengan badan yang tegap dan berotot, brewok yang belum dikuris serta membawa kapak kedalam rumah. “Bagaimana jaco, apa kamu masih ingin tinggal disini?” suara beratnya tertahan Karena ia sedang flu. Entah, kalimatnya tersebut mendandakan bahwa dia ingin aku untuk meninggalkan tempat ini segera atau malah sebaliknya. Dengan tegas aku menjawab semua dengan kata tidak serta lekas sungkeman dengan mereka berdua dan berterimakasih selama ini telah membantu segalanya. Saat aku melangkahkan kaki keluar rumah tersebut , tasku bergetar dan terdengar suara ketukan. Aku hanya menganggap bahwa itu suara dari ponselku, hanya itu. Namun saat aku melihat kelantai dua tempat aku tidur, yakni kamar tony, gambaran wanita itu muncul lagi di jendela, sedang menatapku , tiba-tiba dia tersenyum dan menhilang kembali. Aku terdiam, mungkinkah itu terjadi, fikiranku mulai mengarah ke hal-hal musrik tentang keluarga tony, ibunya pun telah tiada. Saat itu, aku dan tony masih sekolah dasar dan kejadiannya sangan cepat, hal yang anehpun terlihat saat pemakaman ibunya itu, ayahnya tidak terlihat bersdih dan menyesal, hanya kebahagiaan yang terpancar didalam matanya. “mungkinkah?” kata itu terngiang dalam benakku. “Jangan! Cukup!” suara itu lagi, bahkan terdengar lebih keras, aku terus berjalan dan mencari sumber suara tersebut, seorang wanita tua yang berada di tepi perempatan itu sdang terluka, dia menangis dan berteriak hal yang sama, entah mengapa tidak ada yang menghiraukan dan memerhatikannya, padahal lukanya sangat parah, seperti telah terjadi kecelakaan. Pada kulit keriputnya terdapat luka besar yang jumlahnya banyak, bahkan lebih parah lagi dibagian punggungnya dan kedua kakinya seperti ada bekas tusukan dimana-mana. Aku terdiam sejenak dan berfikir mengapa tidak ada tanda telah terjadi kecelakaan disekitar situ, aneh. Dengan tergesa-gesa aku menghampiri dan mengeluarkan kotak obat yang ada di ransel hitamku. Aneh, lukanya terlihat seperti sudah lama dan sudah membusuk, aku jadi teringan saat ayah tony kembali kedalam rumahnya dengan membawa kapak , namun dalam keadaan bersih. Nenek itu memegang tanganku dan berkata “orang yang termakan api akan terhisap” seketika aku terdiam dan terus menatapnya , badanku terasa sangat kaku dan mati rasa. Perlahan tangannya menyentuh pipiku, aku terdiam tak bergerak sehingga dia dengan mudahnya bergerak dan menyentuhku. “Jangaaaaaaaaaaaan!” teriakan tepat didepan mukaku membuatku terbelalak dan merasa pusing. Mengapa dia , mengapa dia, mengapa [to be continued]

0 komentar:
Posting Komentar